Nilai tukar rupiah terus melemah dalam beberapa pekan terakhir, bahkan sempat menyentuh level Rp 17.612 per dolar AS pada Jumat, 15 Mei 2026 — angka yang membuat banyak kalangan khawatir. Di tengah hiruk-pikuk spekulasi soal kondisi ekonomi nasional, Presiden Prabowo Subianto angkat bicara dengan nada santai tapi tegas: Indonesia baik-baik saja.
Rupiah di Titik Terendah Bersejarah
Bukan rahasia lagi, rupiah sedang dalam tekanan berat. Sejak pelantikan Prabowo sebagai presiden pada Oktober 2024, mata uang garuda ini telah melemah sekitar 12 hingga 13 persen terhadap dolar AS. Dari level Rp 15.481 per dolar saat pelantikan, kurs terus merosot menembus Rp 16.000 pada Desember 2024, lalu Rp 17.000-an pada awal 2026, hingga mendekati Rp 17.600 pekan ini.
Tekanan terhadap rupiah datang dari berbagai arah. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyebut ada faktor global yang ikut menekan: harga minyak dunia yang tinggi, suku bunga Amerika Serikat yang masih ketat, dan pelarian modal dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Ditambah faktor musiman — April hingga Juni memang menjadi periode tingginya permintaan dolar untuk pembayaran dividen, cicilan utang, hingga ongkos perjalanan haji.
Situasi global juga tak membantu. Perang di Timur Tengah dan ancaman penutupan Selat Hormuz membuat rantai pasok energi dan pangan dunia terganggu, memicu kepanikan di banyak negara.
Prabowo: "Rakyat Desa Enggak Pakai Dolar"
Di tengah semua kekhawatiran itu, Prabowo justru merespons dengan tenang — bahkan sedikit menyindir pihak-pihak yang dinilainya terlalu lebay.
Saat meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Prabowo melontarkan pernyataan yang langsung jadi sorotan.
"Sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa. Rupiah begini, dolar begini, orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok," kata Prabowo disambut tawa hadirin.
Menurut Prabowo, kekhawatiran soal kurs dolar tidak serta-merta mencerminkan kondisi ekonomi riil masyarakat bawah. Pangan tersedia, energi aman, dan aktivitas ekonomi di tingkat desa berjalan normal tanpa bergantung pada fluktuasi mata uang asing.
"Pangan aman, energi aman ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke. Kita banyak, banyak yang diberikan Yang Mahakuasa," tegasnya.
Bukti Ketangguhan: Dari Pupuk hingga Beras
Prabowo tak sekadar bicara. Ia membeberkan fakta yang menurutnya membuktikan Indonesia justru lebih tangguh dibanding banyak negara lain di tengah krisis geopolitik global.
Selat Hormuz yang terancam ditutup, misalnya, membuat pasokan pupuk berbasis gas dunia terguncang. Namun Indonesia, dengan produksi pupuk urea yang cukup, malah kebanjiran permintaan dari negara lain. Laporan dari Menteri Pertanian menyebutkan negara-negara seperti Australia, Filipina, India, Bangladesh, hingga Brasil kini antre membeli pupuk dan beras dari Indonesia.
"Sekarang sudah terbukti banyak negara yang kesulitan, yang panik karena perang di Timur Tengah. 20 persen BBM dunia lewat Selat Hormuz. Berarti pupuk terpengaruh. Sekarang saya dapat laporan dari Menteri Pertanian, banyak negara minta pupuk dari Indonesia," ujar Prabowo.
Keberhasilan program swasembada pangan pun disebut Prabowo sebagai salah satu penyelamat. Stok beras yang melimpah membuat Indonesia tidak hanya cukup untuk kebutuhan domestik, tapi juga bisa diekspor.
BI: Rupiah Undervalued, Akan Kembali Menguat
Pernyataan Prabowo senada dengan penilaian Bank Indonesia. Gubernur BI Perry Warjiyo yang sempat dipanggil menghadap Presiden di Istana pada 5 Mei 2026 menyatakan bahwa rupiah saat ini mengalami undervaluation — nilainya lebih rendah dari yang seharusnya berdasarkan fundamental ekonomi.
BI juga mencatat kepercayaan investor asing mulai membaik, ditandai dengan masuknya aliran modal ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) selama April 2026 yang mencapai Rp 61,6 triliun. BI optimistis tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda dan rupiah akan kembali ke level fundamentalnya.
Antara Optimisme dan Realita
Tentu, pandangan ini tidak diterima semua pihak tanpa catatan. Sejumlah ekonom mengingatkan bahwa meski pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 tercatat 5,61 persen, kepercayaan investor belum sepenuhnya pulih. Rupiah tetap menjadi salah satu mata uang yang paling tertekan di kawasan ASEAN — berbeda dengan ringgit Malaysia yang justru menguat hampir 9 persen, atau baht Thailand yang menguat lebih dari 4 persen dalam periode yang sama.
Namun Prabowo tampak tidak ingin larut dalam narasi pesimistis. Ia justru menekankan pentingnya para pemimpin tetap setia pada kepentingan rakyat, bukan memanfaatkan gejolak ekonomi untuk kepentingan politik semata.
"Percaya, ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat. Orang mau ngomong apa, Indonesia kuat. Percaya kepada kekuatan kita, percaya pada rakyat kita," pungkasnya.
Apakah Indonesia benar-benar oke di tengah tekanan global ini? Waktu yang akan menjawab. Tapi satu hal yang pasti — Presidennya tidak mau ikut panik.
Data trafik mata uang dunia klik disini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar